Negara Kaya Alami Kebuntuan Soal Target Iklim 2020

September 27, 2007

Negara industri, Kamis, menghadapi kebuntuan mengenai apakah akan menetapkan sasaran keras 2020 untuk mengurangi gas rumah kaca pada sidang pertama PBB tentang sasaran cuaca jangka-panjang, kata beberapa delegasi, seperti dilaporkan Reuters.

Rancangan teks dalam pertemuan Wina menyatakan negara kaya mesti mengakui perlunya untuk mengurangi antara 25 dan 40 persen di bawah tingkat 1990 paling lambat pada 2020 guna menghindari dampak terburuk perubahan cuaca.

Rusia, Jepang, Kanada, Selandia Baru dan Swiss keberatan bahwa sasaran semacam itu akan terlalu menuntut setelah masa pertama Protokol Kyoto PBB — rancang utama untuk memerangi pemanasan global, berakhir pada 2012, kata peserta pertemuan.

Uni Eropa termasuk kelompok yang mendukung rangkaian tak mengikat guna memandu upaya pada masa depan oleh semua pemerintah sebagai bagian dari usaha untuk bergeser dari penggunaan bahan bakar fosil.

“Saya harap kami akan dapat menyepakati rangkaian panduan,” kata Leon Charles dari Grenada, pemimpin pertemuan itu — yang merancang teks yang diusulkan.

Delegasi dari 158 negara bertemu di Wina dari 27 hingga 31 Agustus guna berusaha menyepakati berbagai cara untuk memperpanjang perjuangan memerangi pemanasan global setelah priode pertama Protokol Kyoto berakhir pada 2012.

Pecinta lingkungan hidup mendesak semua negara kaya agar menjadi pelopor dan menyepakati pengurangan tajam guna menghindari dampak yang menggunung yang tampaknya meliputi topan yang lebih kuat, kenaikan permukaan air laut, kemarau serta banjir lebih luas.

“Hanya jika negara industri sepakat untuk mengurangi buangan mereka sampai setidaknya 25-40 persen paling lambat pada 2020 baru lau dunia memiliki peluang untuk menghindari akibat terburuk dari perubahan cuaca,” kata Stephanie Tunmore dari Greenpeace.

Protokol Kyoto mengikat 35 negara untuk mengurangi gas buangan, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil, sebesar 5 persen di bawah tingkat 1990 paling lambat pada 2008-2012.

Pembicaraan Kamis adalah kesempatan pertama bagi para pendukung Protokol Kyoto untuk melihat apakah mereka dapat menyepakati serangkaian pengurangan guna memandu pembicaraan tentang kesepakatan baru tentang cuaca paling lambat pada akhir 2009.

Amerika Serikat tak menjadi bagian dari Protokol Kyoto dan tak terlibat dalam pembahasan tersebut.

Rancangan Charles bertujuan menstabilkan gas buangan rumah kaca pada tingkat yang akan membatasi pemanasan global antara 2,0 dan 2,4 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Uni Eropa, yang telah menyatakan akan secara sepihak mengurangi buangan sebesar 20 persen paling lambat pada 2020 dan sebesar 30 persen jika negara lain mengikuti langkah blok regional itu, menyatakan bahwa setiap prestasi dalam temperatur di atas dua derajat Celsius akan membawa perubahan cuaca yang berbahaya. (*)

Copyright © 2007 ANTARA

Entry Filed under: Perubahan Iklim. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

September 2007
S S R K J S M
    Okt »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Kategori

Tulisan Terakhir

Komentar Terakhir

dienda di DPR Teliti Kerusakan Hutan di…
iip di Perubahan Iklim Sumbangan Besa…
Mr WordPress di Tentang Yayasan Harmoni Lingku…